Sabtu, 12 Januari 2013 di 20.16 Diposting oleh Hanifah Aulia 0 Comments

Title : Gray Rose (Chapter 2)
Author : Aulia Sylvain (Hanifah Aulia H) dan Raijuuken (Aleka Rizki A)
Genre : Mystery, Romance
Main Cast :
Oreki Houtaro
Chitanda Eru
Agatha Naomi
Sakurada Yuusuke
Supporting Cast :
Ibara Mayaka
Fukube Satoshi
Irisu Fuyumi
Disclaimer : Hyouka (Light Novel: Honobu Yonezawa, Manga: Task Ohna)

      Keesokan harinya, seperti biasa di jam istirahat mereka berkumpul di ruang klub mereka. Disana sudah ada Yuusuke sendiri. Hanya sendiri. Dia sedang melihat kearah jendela yang menghadap ke lapangan sekolah. Dan lalu pintu bergeser terbuka… dia adalah Houtaro. Yuusuke menyadarinya, dan ia langsung mengalihkan perhatiannya dari arah jendela itu.
“Ternyata kau Oreki..” kata Yuusuke nyengir. Houtaro seperti biasa cuek terhadapnya. Dan ia pun langsung duduk di tempat duduknya yang biasa pula, begitu juga Yuusuke. Sepertinya ada sesuatu yang ingin dibicarakan oleh Yuusuke.
“Hei hei, Oreki.. kenapa waktu kemarin aku menggoda Chitanda kau kesal ??” Yuusuke mulai bertanya pada Houtaro dengan semacam pertanyaan yang jahil.
“memangnya kenapa kalau aku kesal ?? ada hubungannya denganmu ?” jawab Houtaro yang menganggap pertanyaan seperti itu tidak penting.
“Nggak, aku hanya penasaran… mungkinkah kau cemburu ??” Balas Yuusuke dengan tersenyum mengejek. Houtaro paling malas kalau sudah meladeni pertanyaan yang tidak penting dan mencampuri urusannya.
“Aku tidak cemburu…” Balas Houtaro dengan agak bete.
“Ah, masa ??” Goda Yuusuke tidak percaya.
“iya.. aku hanya kesal ketika sedang serius ada orang yang bermesraan seenaknya.” Jawabnya akhirnya.
“Ohh, begitu… lalu pas pulang sekolah aku melihatmu pulang bareng dengan Chitanda. Ada hubungan special apa diantara kalian ??” Tanya Yuusuke lagi layaknya seorang wartawan yang memberikan pertanyaan tidak penting.
“kami tidak ada hubungan special apapun… sudahlah, berhenti menanyai aku dengan pertanyaan yang nggak penting seperti itu.” balasnya dengan bete.
“oke oke…” Yuusuke menyerah. Dan lalu datanglah Eru dibarengi dengan Mayaka dan Naomi.
“wah wah, dua orang lelaki berduaan di ruangan ini… jangan jangan.. fufu,” canda Mayaka.
“Apa sih yang kau pikirikan ?! (-__-)” balas Yuusuke dan Houtaro berbarengan.
“Ahahah.. kalian berdua lucu sekali.” Mayaka tertawa. Mereka hanya diam malas menanggapi.
“Oh ya, sepertinya tadi kalian sedang mendiskusikan sesuatu… tentang apa ??” Tanya Eru tiba-tiba.
“Bukan apa-apa..” Houtaro menjawab. “hanya pertanyaan yang nggak penting.”
“enak aja pertanyaan yang nggak penting… itu penting ye.. (-__-)” balas Yuusuke sewot.
“paling tentang cewek, Chi-chan…” jawab Mayaka tiba-tiba pada Eru.
“Sok tau…” balas Yuusuke dan Houtaro berbarengan. Mayaka hanya manyun.
Tidak berapa lama, Satoshi pun datang.
“oh, semuanya sudah datang ya.” Ujar satoshi sambil kemudian duduk di tempatnya.
“Ngomong-ngomong apa klub kita ini tak ada kegiatan yang menarik kah ?” Tanya Yuusuke.
“Kegiatan apa ? kami biasanya juga cuman duduk-duduk aja disini. Lagian aku juga malas melakukan hal yang menyusahkan. Itu hanya buang buang energi!” Jawab Houtaro sambil menopang dagu.
“Buang energi ?” Tanya Naomi tidak mengerti. Ya, sebenarnya Houtaro itu paling malas melakukan hal apapun yang menurutnya hanya membuang energinya.
“Hehe.. sudahlah tak perlu dengerin dia. Emang begitu dia mah… agak malas orangnya.” Sahut Satoshi.
“Hei hei.. (-__-)” Ucap Houtaro tersinggung.
“Bagaimana kalau kita buat Hyouka yang baru ?” usul Naomi. Hyouka itu adalah kumpulan karya sastra.
“Bicara sih emang mudah, tapi gimana bikinnya ? kita nggak punya ide mau di isi apa Hyouka itu.” sahut Mayaka.
“Aku punya. Hmmm, bagaimana kalau kita buat cerita kayak biografi gitu. Gimana ?” ujar Yuusuke menyarankan.
“Biografi ? Biografinya siapa ?” Tanya Mayaka.
“Chitanda Eru-chan ?” jawab Yuusuke sambil melirik kearah Eru.
Eru mulai bingung. Dengan tampang kebingungan ia berkata, “Eh ?? kenapa aku ??” sambil menunjuk dirinya.
“Nggak nggak.. aku lebih memilih Oreki yang jadi bahan biografinya.” Sela Naomi sambil menunjuk kearah Houtaro. Houtaro yang sedang asik mendengarkan debat mereka sambil menyenderkan kepalanya dengan tangan menopang kepalanya tiba-tiba merasa unmood.
“kenapa harus aku ??” tanyanya.
“tidak apa-apa kan ?? kami kan juga ingin tau tentang dirimu.” Jawab Naomi. Houtaro sebenarnya tidak setuju dengan itu. ia ingin membantahnya tapi saat ini ia sedang malas untuk berdebat.
Dan Eru tertarik. Rasa penasarannya kembali. Ia ingin tahu masa lalu seorang Houtarou. Sedangkan Houtarou menolaknya. Satoshi diam dan tampak sedikit murung. Houtarou pun marah dan keluar ruangan sambil membawa tasnya karena terus ditekan, apalagi oleh Eru yang tak tahu apa-apa tentang masa lalunya. Eru sempat menghentikan Houtaro yang hendak keluar karena kesal. Houtaro berbalik.
“Chitanda! Hentikanlah rasa penasaranmu itu! Masa laluku sama sekali tidak ada yg menarik. Tidak ada yg bagus dimasa laluku! Jadi, jangan paksa aku atau aku akan membencimu! Dan itu bukan urusanmu, tidak usahlah kau ikut campur dalam kehidupan masa laluku! Kau tidak tau apa-apa tentang masa laluku.!”Bentak Houtaro. Eru kaget dan yang lainnya juga. Tidak biasanya Houtaro bersikap seperti itu. hatinya sempat terluka. Hampir saja ia mengeluarkan air mata, tapi ia tahan agar tidak terlihat cengeng.
“Apa yang kau lakukan padanya Oreki ?!” Mayaka yang tidak tahan melihatnya, segera membela Eru. “dia itu perempuan. Bagaimana bisa kau membentaknya ?! tidak seperti dirimu yang biasanya..” sambil menghibur dan menghampiri Eru, Mayaka membelanya dan mengelus kepala Eru. Keadaan semakin kacau. Mereka yang melihatnya hanya diam, tidak berani untuk ikut campur.
“Kalian semua tidak tau diriku yang sebenarnya ! jangan ikut campur!” tambah Houtaro kesal. Setelah itu ia berjalan keluar dengan pintu yang ditutup dengan kencang. Menyadari itu, Satoshi menyusul Houtarou yang berada diluar. Yuusuke hanya terdiam dan wajahnya tampak pada mode serius dan curiga kali ini. Dalam hatinya ia berkata, “Ternyata benar, dia..”
Di dalam ruangan, Mayaka menghibur Eru dibantu dengan Naomi.

Ketika Houtaro sedang menatap kearah jendela dengan tatapan yang sedikit kesal, Satoshi menghampiri. Houtaro yang menatap kearah jendela itu pun menyadari kehadiran Satoshi.
“Yo..” sapa Satoshi.
“Nani ??” Tanya Houtaro jutek.
“Nandemonai… tadi kenapa kau membentak Chitanda ?? tidak biasanya…” Satoshi balas bertanya sambil memasukkan tangannya ke saku dan menghampiri Houtaro dengan berdiri di sampingnya menatap kearah jendela.
“Aku hanya emosi.. suman, emosi ku berlebihan.” Balas Houtaro menyesal.
“Ya, nggak apa-apa.. Houtarou, apa kamu masih..” ucap Satoshi tiba-tiba.
“Diamlah Satoshi. Aku nggak mau membahasnya lagi.” potong Houtarou.
“Jadi benar kamu masih mengingatnya?” tanya Satoshi.
“Tidak, aku nggak begitu mengingatnya. Tapi aku memang nggak mau mengingatnya lagi.” jawab Houtarou sambil menatap lurus kearah jendela.
“Sokka.. wakatta.” Balas Satoshi. “kalau begitu aku tinggal dulu ya…” tambahnya sambil berlalu pergi memasuki ruangan itu. Houtaro hanya mengangguk. Sebelum menuju pintu, Satoshi berbalik dan sempat berkata pada Houtaro.
“oh ya, sebaiknya kau minta maaf pada Chitanda karena telah membentaknya.” Begitulah pesan dari Satoshi yang diterima Houtaro. Lalu Satoshi masuk ke kelas itu meninggalkan Houtaro sendirian. Houtaro menghembuskan nafas dan berlalu pergi meninggalkan tempat itu dengan membawa tas sekolahnya.

Ketika sampai di loker sepatu yang berada di lantai satu dan ingin mengambil sepatunya, ia bertemu dengan Fuyumi yang kebetulan lewat. Irisu Fuyumi, adalah kakak kelas Houtaro yang berarti juga kakak kelas Satoshi, Mayaka, Eru, Yuusuke, dan Naomi. Yang sebenarnya juga Irisu Fuyumi adalah teman masa kecil Eru. Irisu Fuyumi rambutnya berwarna Hitam kebiru-biruan dengan rambut panjang yang di gerai.
“Hei kau..” panggilnya. Houtaro segera menghentikan kegiatan memakai sepatunya dan segera menoleh kearah sumber suara itu yang ternyata adalah Irisu-senpai.
“Apa kamu punya waktu?” tanya Fuyumi menghampiri Houtaro dengan menyilangkan tangan di dada.
“Nggak.” jawab Houtarou dengan singkat.
“Benarkah? Tapi kulihat kamu pulang lebih awal dari teman-temanmu. Ada apa?” tanya Fuyumi.
“Bukan urusanmu.” jawab Houtarou melanjutkan kegiatan memakai sepatunya.
"Begitu ya. Tampaknya kamu sedang ada masalah. Mungkin aku bisa membantumu." bujuk Fuyumi.
“Nggak usah, aku nggak perlu bantuanmu.” tolak Houtarou lagi. Ia sudah selesai memakai sepatunya. Dan sekarang tinggal memasukkan sandal yang biasa dipakai di sekolah ke loker sepatunya.
“Begitukah? Baiklah, tapi jika kamu butuh aku. Aku akan menunggumu di kedai minum teh yang biasa.” ujar Fuyumi meninggalkan Houtaro sendirian. Houtaro mendengarnya tapi ia abaikan dan segera berlalu pergi meninggalkan tempat itu. Houtaro dan Fuyumi biasanya pergi ke kedai teh itu jika ada masalah. Kedai teh itu bernama Hifumi.
Ia berjalan melewati pintu gerbang sekolah dengan kepala yang tertunduk entah apa yang sedang dipikirkan olehnya. Ketika sudah sampai di penyebrangan jalan lampu merah, tanpa sadar ia melangkahkan kakinya menuju kedai teh dimana Fuyumi menunggunya. Ketika sampai, ia menanyakan pada seorang kasir tentang Fuyumi dengan menyebutkan cirri-ciri Fuyumi. Untunglah kasir itu mengenalnya karena mereka pelanggan tetap disana. Ketika sampai di meja yang dipesan oleh Fuyumi, Fuyumi sudah berada disana lebih dulu. Fuyumi tersenyum. Model tatanan kedai teh itu model lesehan.
“Syukurlah kamu datang, Oreki-kun.” sapa Fuyumi sambil tersenyum.
“Aku kesini juga terpaksa. Sepertinya aku memang perlu menenangkan diriku disini sambil minum teh.” balas Houtarou melepaskan sepatunya dan segera duduk dengan menaruh tasnya.
“Kalau cuma nenangin diri dan minum teh bukannya dirumah juga bisa?” ucap Fuyumi yang sebenarnya itu hanya candaan yang dilontarkan oleh Fuyumi pada Houtaro. Jleb… tapi entah kenapa itu lumayan menusuk hati Houtaro. Houtaro hanya bisa diam.
“Sudah kuduga kamu sedang ada masalah serius dengan teman-temanmu.” ujar Fuyumi yang tampaknya sudah mengetahui permasalahan itu.
“Ya, bisa dibilang begitu..” balas Houtaro. Ia tak berani menatap wajah Irisu-senpai. Entah karena perasaan takut atau apa, ia tidak begitu mengerti.
“Jadi ada masalah apa?” tanya Fuyumi dengan wajah yang serius.
“Nggak, tidak ada masalah apa-apa.” jawab Houtarou tertunduk.
“Kalau kamu terus begini takkan pernah ada habisnya. Masalah takkan selesai jika terus dihindari. Kamu harus menerimanya dan hadapi, Oreki-kun.” ujar Fuyumi menasihatinya. Houtaro tahu itu dan ia mengerti.
“Kau nggak tahu apa-apa tentangku, Irisu-senpai. gomen bicaraku lancang, tapi aku nggak mau membahas hal itu.” tolak Houtarou dingin.
“Oreki-kun, apa kamu masih marah padaku tentang masalah waktu itu?” tanya Fuyumi.
Houtarou diam tak mau menjawab. Ia jadi teringat tentang kejadian waktu itu. kejadian ketika Houtarou tahu saat Fuyumi mnyuruhnya untuk membongkar kasus naskah itu, dia merasa dimanfaatkan oleh Fuyumi. Padahal maksudnya bukan itu. Fuyumi minta sudut pandang Houtarou sebagai detektif untuk membuat cerita lebih menarik.
“Begitu ya. Baiklah aku minta maaf kalau gitu. Ini pertama kalinya aku minta maaf setelah sekian lama.” ujar Fuyumi sambil membungkukkan badan. “Jadi maukah kamu memaafkanku?” tanya Fuyumi sekali lagi.
‘Bagaimana ini? Aku nggak bisa menolak untuk memberi maaf. Tapi aku juga nggak bisa begitu saja memaafkannya atas apa yang ia lakukan padaku. Namun, kayaknya ia bersungguh-sungguh meminta maaf.’ gumam Houtarou dalam hatinya dengan kebimbangan.
“Ba-baiklah, aku memaafkanmu, Irisu-senpai.” ucap Houtarou akhirnya dengan sedikit ragu.
“Benarkah? Syukurlah kalau gitu. Sekarang aku merasa nggak terlalu terbebani. Terima kasih..” ucap Fuyumi senang.
“Ya, sama-sama, Irisu-senpai.” jawab Houtarou.
“Oh ya, jadi apa sekarang kamu sudah mau ceritakan masalahmu?” tanya Fuyumi.
“Nggak, aku nggak mau membagi ini pada orang lain. Biarlah aku menanggung beban ini sendiri.” jawab Houtarou pelan.
Houtarou nampak murung dan memalingkan wajahnya. Fuyumi yang melihat itu tampak mengerti situasi yang terjadi dalam hati Houtarou.
“Oreki-kun.” panggil Fuyumi dalam keheningan.
Houtarou menoleh, namun terkejut ternyata Fuyumi sudah tak ada di tempatnya. Lalu tiba-tiba ia merasa hangat. Ternyata Fuyumi sudah berada disampingnya memeluknya dan mendekap kepalanya.
“Kamu tak bisa selalu melakukan semuanya sendiri. Memendamnya sendiri. Kamu harus berbagi dengan teman-temanmu. Dengan sahabatmu. Dengan orang yang kamu percaya supaya mereka bisa membantu meringankan bebanmu." ucap Fuyumi sambil terus memeluk Houtarou dengan kasih sayang.
Houtarou tak bisa melawan, karena saat ini ia seperti merasakan hangatnya pelukan seorang ibu. Ia merasakan ketenangan hati saat itu.
“Tabib tak bisa menyembuhkan dirinya sendiri. Kamu harus tahu itu, Oreki-kun.” tambah Fuyumi masih dengan memeluk Houtaro lembut dan membelai rambutnya dengan rasa sayangnya. Tak lama kemudian, Irisu-senpai melepaskan pelukannya. Houtaro lega dan merasa lebih tenang sekarang. Ia dapat mengerti perkataan yang diucapkan oleh Irisu-senpai barusan.
“Baiklah, aku mengerti. Akan aku ceritakan lain kali pada senpai.. tapi tidak sekarang. Mungkin aku sedang tidak mood untuk bercerita pada siapapun.” Houtaro pun akhirnya memberi jawaban dengan menundukkan kepalanya.
“Oke, tak apa. Aku akan menunggunya.” Balas Irisu-senpai tersenyum masih dengan berada di samping Houtaro. Lalu ia segera duduk di tempat duduknya semula dengan meminum tehnya. Irisu-senpai menyuruh Houtaro untuk meminum teh itu sebelum dingin, Houtaro pun menurut. Houtaro melihat jam di tangan kirinya, waktu sudah menunjukkan pukul 5 sore, waktunya untuk pulang ke rumah.
“Irisu senpai, sepertinya aku harus pulang. Hari sudah semakin sore.” Ucap Houtaro memecah keheningan. Irisu-senpai mengangguk.
“Ya, kau benar. Sepertinya aku juga harus pulang.” Balasnya. Dan setelah itu mereka segera meninggalkan tempat itu, tak lupa juga untuk membayar pesanan teh mereka. Ketika mereka sudah berada diluar, mereka segera berpamitan satu sama lain.
“Kamu tidak langsung pulang, Irisu-senpai?” tanya Houtarou.
“Tidak, aku sedang menunggu seseorang. Dia adalah sepupuku. Kamu pasti kenal.” jawab Fuyumi.
“Hmm.. benarkah? Nggak juga tuh. Kalau gitu aku duluan ya.” sahut Houtarou. Fuyumi mengangguk dan melambaikan tangannya pada Houtaro. Houtaro pun membalas lambaian tangan itu. Kemudian Houtarou pun pergi meninggalkan Fuyumi sendirian. Dari kejauhan tampak Yuusuke memperhatikan tanpa sepengetahuan mereka.
“Baguslah, sepertinya Yumi-chan berhasil memberikan +1 untuk nya.” ujarnya sambil tersenyum. Setelah Houtaro sudah pergi dan berada jauh dari mereka, Yuusuke segera menghampiri Fuyumi yang sedang menunggu.
“Yo..” sapanya.
“Hei kau, aku tunggu juga, lama sekali.” Ujar Fuyumi.
“Haha… Gomen gomen.” Balas Yuusuke sambil tersenyum. Dan mereka pun segera meninggalkan tempat itu.

Sesampainya Houtaro di rumah, ia segera membersihkan diri, sehabis itu, ia segera masuk ke kamarnya. Merenungi apa yang terjadi tadi siang. Dia menghempaskan badannya ke tempat tidur. Jika mengingat kejadian itu ia merasa seperti…. Hmm.. entahlah seperti apa. Tetapi kali ini ia merasa gelisah.
Ia mengingat kejadian tadi saat di kedai dengan irisu senpai yang memeluknya. Sungguh, saat itu ia sangat malu sekali, jika dibayangkan mukanya menjadi merah.
‘Aahh.. apa sih yang kupikirkan ?’ ucapnya pada diri sendiri sambil menggeleng-gelengkan kepala. Mukanya memerah. Ia berusaha menghilangkan pikiran yang mengusiknya itu. ia pun berbalik lagi. Ia jadi teringat kejadian saat ia membentak Eru di ruang klub. ‘aku sangat kejam ya…’ ucapnya pada diri sendiri lagi dengan perasaan bersalah. ‘besok aku harus minta maaf padanya.’ Sesalnya dalam hati. Kali ini mukanya kembali murung. Setelah berguling-guling kesana kemari di tempat tidurnya yang untungnya tempat tidurnya tidak roboh, ia segera tertidur dengan nyenyak saking capainya.
Lagi lagi ia bermimpi itu.. ya, mimpi tentang masa kecilnya. Masa kecil yang tak ingin dia ingat lagi. Tapi kali ini di mimpi itu ia seakan mengingat kejadian masa kecilnya kembali walaupun masih ada beberapa yang buram.

“Taro-kun!” terdengar suara orang memanggil dari belakang.
“Yuu.” sahut Houtarou kecil pada seorang anak lelaki yg memanggilnya.
“Bagaimana dia?” tanya anak lelaki yang dipanggil Yuu itu.
“Dia siapa?” tanya Houtarou kecil.
“******-chan.” jawab Yuu yang wajahnya tampak buram itu.
Houtarou menoleh pada anak perempuan yg duduk di depan. Tapi tiba-tiba pandangan seperti TV tanpa sinyal. Kemudian gambar jadi jelas lagi dan terlihat jelas anak perempuan tersenyum bersimbah darah.
“Hou-houtarou..” terdengar suara rintih kecil memanggil namanya dari mulut anak perempuan itu. Kemudian semuanya hening, walau mulut perempuan itu mengucapkan sesuatu tapi tak terdengar apapun. Dan kemudian semuanya gelap.
Ia kembali terbangun dari mimpi itu. nafasnya memburu. Ia segera memegang keningnya yang penuh dengan peluh itu.
“Mimpi itu lagi ?” gumamnya. Hening sebentar. Ia mencoba mengingat-ingat siapa perempuan yang berada di mimpinya itu. Rasanya dulu ia pernah mengenalnya. Menyerah untuk berpikir keras, dia pun kembali memejamkan matanya dan membaringkan badannya kembali di tempat tidur. Masih dengan pertanyaan yang misteri,
‘Siapa gadis itu?’
                                                                    ***
To be continued...

NB: Ini cerita semau gue. dengan alur dan kalimat yang semau gue.
Nggak suka ? Baca ?  Nggak usah baca ? Terserah.

Mohon Kritik dan sarannya.

Rabu, 09 Januari 2013 di 15.59 Diposting oleh Hanifah Aulia 0 Comments

Title : Gray Rose (Chapter 1): First Meeting
Author : Aulia Sylvain (Hanifah Aulia H) dan Raijuuken (Aleka Rizki A)
Genre : Mystery, Romance
Main Cast :
Oreki Houtaro
Chitanda Eru
Agatha Naomi
Sakurada Yuusuke
Supporting Cast :
Ibara Mayaka
Fukube Satoshi
Disclaimer : Hyouka (Light Novel: Honobu Yonezawa, Manga: Task Ohna)

      Sebuah ruang yang sangat gelap. Hanya ada seberkas sinar yang muncul. Ada banyak sosok tak jelas. Ada dua orang yang sedang mengobrol. Tapi pasti ada seseorang yang ia kenal walau buram. Tiba-tiba ia sudah menyaksikan sebuah kepergian seseorang, ia tidak mengenalnya. Hilang—timbul. Gelap… lalu terang… gelap lagi…
Semuanya begitu tampak tak jelas. Seperti ingatan yang buram. Dan tiba-tiba ia menyaksikan sebuah tragedi yang begitu menyeramkan. Seorang gadis terbunuh. Ada darah mengalir!

Pemuda itu terbangun dengan sigap. Napasnya memburu. Ia duduk termangu. Penuh ragu dan kehampaan. Sambil mengatur napasnya dan menarik napas dengan pelan, ia terdiam beberapa saat. Setelah beberapa menit ia bergeming, ia masih berada di kamarnya. Pemuda itu mengelap keringat yang menetes di dahinya. Sambil mengacak-acak rambut ikalnya yang cokelat gelap, ia berkata, “Kenapa? Kenapa mimpi ini datang lagi. Sial!” dan mata pun kembali terpejam. dengan masih satu pertanyaan besar.
***
      Bel istirahat berdering, semua murid-murid berhamburan keluar kelas. Seperti biasa, anggota Klub Sastra selalu berkumpul di suatu ruangan yang terletak di lantai dua pojok kelas. Anggotanya hanya terdiri dari 4 orang saja. Yaitu Oreki Houtaro, Chitanda Eru, Ibara Mayaka, dan Fukube Satoshi. Disaat mereka sedang asyik nya mengobrol, tiba-tiba pintu kelas terbuka dengan keras. Brakk.. semua yang berada disana terkejut dan langsung melihat kearah pintu kelas. Di sudut pintu itu terdapat seorang lelaki yang rambutnya berwarna cokelat muda dengan napas yang tersengal-sengal. Sambil mengatur napasnya yang tak beraturan itu, ia menghampiri mereka dan menyerahkan sebuah formulir ke atas meja. Anggota Klub Sastra hanya memandanginya dengan bingung. Pria itu pun mulai berbicara,
“izinkan aku bergabung dengan Klub Sastra kalian..!” mohon pria itu sambil membungkukkan badan.
Setelah pemuda itu memohon barulah mereka mengerti apa maksud kedatangan pemuda itu. Mereka bertepuk tangan untuk pria itu. Satoshi pun bangkit dari tempat duduk.
“Kau diterima…” kata Satoshi sambil menepuk-nepuk pundak pria itu. Setelah dibilang seperti itu oleh Satoshi, wajah pria itu kembali ceria. Setelah itu, mereka meminta pria itu mengenalkan dirinya di hadapan mereka…
“Namaku Sakurada Yuusuke. Aku dari kelas 2-B.” mendengar nama itu disebut Houtaro merasa ada sesuatu yang mengganjal. Sepertinya dahulu ia pernah mengenal pria itu, tapi dia melupakannya karena suatu alasan yang ia lupakan.
Setelah hari itu, mereka menjalani hari-hari dan aktivitas seperti biasa. Suatu hari ketika mereka sedang berkumpul di ruangan itu, Yuusuke mulai menggoda Eru (lagi). Entah kenapa ia berbuat seperti itu. Houtaro melihatnya dengan pandangan sebal dan tiba-tiba Dia menggebrak meja sambil berdiri. Orang yang berada di ruangan itu pun kaget. Tapi kemudian Houtarou duduk lagi karena malu dia keceplosan marah. Yuusuke memandanginya sambil tersenyum seperti baru menemukan sesuatu yg menarik dan dia pun mulai menggoda houtaro..
“wah wah, ada apa denganmu Oreki ??” katanya dengan nada mengejek sambil menghampiri Houtaro yang berada di seberangnya. “apa kau cemburu Oreki ??” tersenyum mengejek. Houtaro hanya menggerutu dalam hatinya dan berlalu pergi keluar koridor untuk menenangkan dirinya. Dia menutup pintu kelasnya dengan kencang sekali membuat semua orang yang berada disana kaget dan terheran-heran. Yuusuke hanya tersenyum mengejek melihatnya. Eru melihatnya dengan rasa cemas.

Houtaro POV

“Apa yg sebenarnya bocah itu lakukan? Bermesraan di ruang klub, membuatku jadi gerah saja. Cih!”Omelku kesal sambil menaruh tanganku disaku.
“Anoo.. permisi…” tiba-tiba terdengar suara lembut seorang cewek menghampiriku. Aku menengok kearah sumber suara itu.
“ya??” balasku dengan tangan yang masih berada di dalam saku celanaku. Aku berusaha meredam kemarahanku. Saat aku melihat kearahnya ternyata dia seorang gadis yang cantik dengan rambut yang berwarna hitam dan dikuncir dengan pita pink.
“Apa benar ini ruang tempat berkumpulnya anggota klub Sastra ??” tanyanya sopan dan malu-malu.
“Ya, memang kenapa ??”
Wajahnya berubah ceria. “Wah, apa kau juga salah satu anggotanya ?? Siapa namamu ?”
“Iya.. Houtaro, Oreki Houtaro. Dan kau siapa ?” balasku bertanya dengan agak sedikit jutek.
“Aku Naomi Agatha.. Jadi kau Oreki Houtaro ya.. aku tak menyangkanya. (^_^) Aku ingin bergabung dengan klubmu.” Aku diam sebentar memikirkan kata-katanya. ‘Apa maksudnya dia bilang, “Aku tak menyangkanya”?!’ –tanyaku heran pada diriku sendiri
“Yasudah, kau tinggal masuk saja kedalam.” Kataku setelah diam sejenak.
“O-oke, tapi bisakah kau mengantarku ?? aku masih agak kaku..” pintanya malu-malu. ‘Sebenarnya aku malas mengantarnya kedalam karena aku masih kesal dengan Sakurada. Tapi apa boleh buat.’ batinku. “baiklah..” jawabku akhirnya. Wajahnya kembali ceria. “asiik..” katanya senang dengan menggandeng tanganku. ‘Apa-apaan dia menggandeng tanganku seenaknya seperti seorang kekasih.. mengesalkan!’ batinku jengkel. Aku pun mulai membuka pintu. Sreegg.. semua melihat ke arahku. Aku heran ada apa.

Author POV

   Semua yang melihat Houtaro masuk dengan digandeng oleh seorang wanita, langsung menatap heran dan bertanya-tanya karena Houtaro tak pernah suka digandeng oleh seorang wanita yang tak dikenalnya. Eru yang melihat Houtaro sedang digandeng oleh seorang wanita, matanya terbelalak mungkin karena kaget dan terlihat murung.
‘Siapa gadis itu ?? kenapa dia menggandeng tangan Oreki-san seperti layaknya seorang kekasih? Apa dia kekasihnya ?’ Pikiran negative menghantui Eru. Dia tidak tau harus bagaimana.
“biar kuperkenalkan pada kalian… dia ini anggota baru kita yang ingin bergabung dengan klub sastra..” dengan menunjuk kearah Naomi, Houtaro memulai percakapan dengan nada tidak ikhlas untuk memperkenalkan Naomi. Naomi pun melepaskan tangannya dari lengan Houtaro yang habis digandengnya itu. Houtaro terlihat lega dan kembali ke tempat duduknya.
“Halo… Namaku Agatha Naomi. Aku dari kelas 2-A. Aku ingin bergabung dengan klub kalian ini yang disebut Klub Sastra.” Katanya dengan ceria memperkenalkan dirinya sambil membungkukkan badan. Semuanya menyambut dengan senang. Eru hanya tersenyum datar. Naomi sempat ditanyai kenapa ia tertarik masuk klub Sastra oleh Mayaka. Wajah Houtaro terlihat bete. Naomi mengeluarkan sebuah sebuah buku dari tasnya. Ternyata itu adalah buku karya Hyouka yang baru.
“aku tertarik karena ini,” katanya sambil menunjukkan buku itu. “aku jatuh cinta pada Oreki Houtaro penulis Hyouka itu soalnya dia hebat bisa memecahkan misteri 40 tahun lalu.” Lanjutnya dengan gembira sambil melirik kearah Houtaro. Semua mengangguk tanda mengerti kecuali Houtaro yang kaget dan merasa sebal karena dirinya disangkut pautkan oleh itu. Eru hanya tersenyum datar. Entah perasaan apa yang merasuki dirinya hingga ia kehilangan moodnya setelah Houtaro membawa masuk gadis itu dengan bergandengan.
“Ciee.. Houtaro, sepertinya kau dapat penggemar baru.” Goda Satoshi pada Houtaro. Wajah Houtaro masih terlihat bete.
‘Cewek itu ngapain bawa-bawa namaku sih ! menyebalkan sekali…’ batin Houtaro kesal. ‘sepertinya ini hari menyebalkan ku. Ck,’ keluhnya.
Dan setelah itu barulah mereka menjalani aktivitas seperti biasa.
Ketika pulang sekolah, Naomi meminta Houtaro untuk pulang bareng dengannya. Houtaro tidak mau menerima permintaan itu sebenarnya. Dan kebetulah Eru lewat dengan sepedanya.
“Eh, maaf Naomi aku sudah ada janji untuk pulang bareng Chitanda…” tolak Houtaro lembut. Chitanda yang kebetulan lewat mendengarnya. “Eh ?” Tanya Eru tidak mengerti.
“Ya Chitanda ?? Aku kan pulang bareng denganmu ya ?” Mohon Houtaro pada Eru.
“Eh ? Ap ? tapi…” Eru semakin bingung dan tidak mengerti. “Ya ??” Houtaro memohon lagi, kali ini dengan nada dan tampang yang memelas pada Eru yang merupakan kode untuk Eru. Eru agak sedikit mengerti sekarang, dan ia pun mengangguk. “I-iya.. dia pulang bareng denganku.” Kata Eru akhirnya pada Naomi. “Tuh kan…” Houtaro menambahkan.
“Eeeh ?? Tapi… Yasudahlah,” balas Naomi dengan nada kecewa dan murung. “Kalau begitu aku pulang sendiri saja. Hee” lanjut Naomi lagi dengan senyum yang mungkin agak sedikit di paksakan. Houtaro sangat lega sekali mendengarnya. Dan Naomi pun meninggalkan mereka berdua. Yuusuke juga melihatnya dari kejauhan.
Dalam perjalanan pulang sekolah dan menuju ke rumah, Houtaro dan Eru sempat bercakap-cakap sebentar. Masih agak canggung meski mereka sudah berteman lama. Eru kali ini tidak menggunakan sepedanya, sepedanya hanya dituntun.
“mmm… anoo.. Apa kau… kenal dengan Naomi ?” Tanya Eru dengan agak sedikit kaku dan malu-malu sambil menuntun sepedanya. Sedangkan Houtaro disebelah kirinya.
“Tidak… dia tiba-tiba datang saat aku keluar kelas dan meminta ingin bergabung dengan klub.” Balas Houtaro. Eru hanya mengangguk tanda mengerti. “kenapa memangnya ?” Houtaro balik bertanya.
“Ti tidak.. kukira kamu pacarnya, habis Naomi menggandeng tanganmu.” Balasnya agak sedikit malu.
Dan tiba-tiba mereka berhenti. “Hah ?? Dia pacarku ? ogah banget… dia tiba-tiba menggandeng tanganku nggak tau alasannya kenapa.” Houtaro menjelaskan dengan sedikit sewot. Eru yang mendengarnya hanya tersenyum simpul. Dan mereka melanjut perjalanan.
“Haha… begitu ya, baguslah.” Balas Eru dengan tersenyum. Houtaro agak tidak mengerti kenapa Eru bilang seperti itu. Tapi dia tidak terlalu memikirkannya.
Mereka sampai di persimpangan jalan lampu merah, mereka berpisah disini. Setelah berpamitan dan mengucapkan “bye bye” mereka melanjutkan jalan kearah rumah mereka masing-masing.
***

Tambahan: Ini cerita semau gue, dengan alur dan kalimat yang semau gue. Nggak suka, terserah mau nggak dibaca atau dibaca. ;D
 Mohon kritik dan sarannya...

Sabtu, 27 Oktober 2012 di 03.14 Diposting oleh Hanifah Aulia 2 Comments

   Aku mengaguminya sudah lama. Tapi itu hanya sekedar kagum sebelum perasaan itu berubah lebih dari sekedar ‘kagum’.
                                                                         ***
“Keita Motoharu..” sebut guru itu saat sedang mengabsen nama murid 1-3. Aku tercengang mendengar nama itu disebut, aku memang tahu dia akan satu SMA denganku tapi tak kusangka orang yang kukagumi itu satu kelas denganku. Entah karena kebetulan atau memang karena keberuntungan.
Sama seperti di SMP, aku masih selalu memperhatikannya dari jauh. Selalu.. Tak ada bosannya. Hingga saat itu aku mendengar percakapan dengan temannya di kantin sekolah.
“Hmm.. jadi kau masih menyukai gadis yang bernama Yuina itu ya kei ?? bertahan juga kau… ahaha,” Begitu kata salah seorang temannya. Hatiku sakit saat mendengar kalimat itu.

*Flashback*

Waktu itu aku masih SMP kelas 3 dan aku sekelas dengannya. Karena tempat dudukku berada tepat di belakang tempat duduknya, aku jadi mengetahui perasaan sesungguhnya yang ia sembunyikan karena dia selalu membicarakan orang itu dengan teman sebangkunya dan itu cukup membuat hatiku sakit. Gadis yang selalu di bicarakannya itu, Yuina dari kelas 3-3 sedangkan aku dan Keita di 3-1.
Karena selalu memperhatikannya aku jadi tau kalau dia selalu memandangi Yuina dengan ekspresi wajah penuh cinta dan dia juga sempat akrab dengan Yuina. Hingga kejadian itu pun terjadi…
Hari itu saat siang menjelang sore dan para murid juga sudah pulang ke rumah masing-masing, di sekolah hanya ada Komite Murid yang sedang rapat. Karena Keita adalah ketua kelas di kelas kami maka ia juga ikut rapat begitu juga dengan Yuina. Karena aku ada barang yang ketinggalan jadi aku balik ke sekolah.
Setelah mengambil barang ku yang ketinggalan di kelas dan aku akan segera pulang ke rumahku, di tikungan koridor kelas aku melihat Keita bersama Yuina. Ia kelihatan seperti sedang memeluk Yuina. Entah apa yang terjadi, tapi itu membuatku sakit. Sakit rasanya sampai aku ingin menangis. Aku berlari sekencang mungkin entah kemana yang penting aku tidak melihat mereka berdua lagi dan tanpa kusadari air mataku jatuh membasahi pipi. Tuhan, kenapa aku memendam rasa ini padanya ? kenapa tak kau hapus saja perasaan ini jika hanya membuatku terluka.. dan akhirnya aku pun menangis.

*kembali ke masa kini*

Jika mengingat kejadian itu, rasanya sakit dan aku tidak ingin mengingatnya lagi. Toh, sekarang aku satu sekolah dan satu kelas dengannya tanpa ada Yuina dan aku juga sempat berfoto dengannya saat kelulusan.
Siang itu ia sedang duduk di bangku halaman sekolah, aku ingin mencoba menyapanya walaupun aku tak begitu dekat dengannya.
“Hey..” sapaku. Sepertinya ia agak kaget.
“Oh, Hey.. Ternyata kau Rin.” Balasnya.
“sedang apa kau ? jangan melamun di siang bolong gini.” Aku mencoba untuk mencari obrolan yang menarik. Lalu aku segera duduk di sampingnya.
“ah, tidak.. aku hanya sedang memandangi langit.” Jawabnya singkat membuatku bingung harus bicara apa lagi.
“Ooh.. Kau suka langit ya ?” akhirnya aku menemukan pembicaraan yang cocok.
“mmmh, ya.. begitulah.” Kenapa jawabannya singkat sekali sih.. obrolannya jadi kaku begini. Aah, sudahlah aku sudah tidak tahan lagi untuk menanyakan hal ini.
“Kau masih menyukai Yuina ya ??” tanpa kusadari kata-kata yang aku ucapkan itu keluar dari mulutku.
“Ba-.. Ti, tidak kok…” jawabnya gugup. Aku tau, sebenarnya ia ingin bilang ‘bagaimana kau tau itu ?’ tapi ia berbohong dengan bilang ‘tidak’ padahal jelas-jelas bahwa ia masih menyukai Yuina.
“Tidak ?? mukamu merah begitu..” Aah, aku ingin menghentikan pembicaraan ini, karena aku tau semakin dalam pembicaraan ini hatiku semakin sakit.
“Ketahuan ya… tapi, bagaimana kau bisa tau Rin ?” Tuh kan bener ia ingin bilang begitu. Tentu saja aku tau karena aku selalu memperhatikanmu dan kau selalu membicarakan tentangnya.
“tau aja..” jawabku akhirnya sambil menggoyang-goyangkan kakiku.
“Hmmm.. Kalau begitu aku bisa curhat denganmu tentang Yuina dong.. hehe,”balasnya. Eeh apa ??! mana bisa aku begitu.. Bisa bisa perasaanku akan terluka jika medengar curhatan Keita tentang Yuina padaku. Tapi aku tak bisa menolak, apa boleh buat akhirnya aku menyetujuinya.
                                                                      ***
Sejak hari itu, ia selalu datang dan mengobrol padaku. Kami jadi semakin dekat. Aku cukup senang walaupun terkadang ia curhat tentang Yuina. Ternyata Keita dan Yuina saling kontak-kontakan, itu membuatku sedikit cemburu. Bagiku, Yuina itu beruntung sekali disukai oleh pria seperti Keita yang kalau kata anak perempuan, tipe cowok yang kebanyakan disukai para cewek. Aku tau dia menyukai gadis lain, tapi tak apa kan’ jika ku pendam rasa ini walaupun itu menyakitkan bagiku..

“Saat kubilang kalau aku mengkhawatirkannya dia malah bilang padaku kalau aku lebay.. apa yang harus ku lakukan ?” katanya padaku mengakhiri cerita curhatannya. Keita kelihatan putus asa. Hari itu kami sedang duduk berdua di bangku taman sekolah.
“Hei, Rin… Apa aku lebay ??” tanyanya lagi padaku.
“Lebay ?? kalau menurutku kamu gak lebay kok.. yaah, apa boleh buat kau kan sekarang beda sekolah dengannya. Kenapa kau tak minta bertemu dengannya ?” itu saran yang ku ucapkan pada Keita. Aku tidak tau bagaimana tanggapannya nanti.
“Boleh juga tuh ! baiklah, akan kucoba! Thanks ya Rin..” balasnya senang. Aku mengangguk senang.

Malam hari, Keita meng-sms-ku.. memang, sebelumnya aku tidak punya nomor handphone-nya tapi setelah aku dan dia jadi dekat, Keita memberikan nomor handphone-nya padaku. Di dalam sms itu, Keita menulis pesan begini…
“Akhir’a aku bisa mengajak yuina ketemuan rin! Wah, gak nyangka bgt deh! Thx ya rin.. selengkap’a aku jelaskan besok di skul. –Keita-“
Yaah, aku cukup senang mendengarnya dan… jujur saja, juga sedikit cemburu. Tapi apa boleh buat, aku hanya bisa memendam perasaan itu. Bagiku yang memendam cinta sepihak padanya itu sangat menyakitkan.

Esoknya ia menceritakan padaku bagaimana ia bisa mengajak Yuina ketemuan dan rencana saat ia sudah bertemu Yuina nanti. Keita meminta bertemu dengan Yuina pada hari sabtu siang. Sekarang hari kamis, berarti lusa nanti ia akan ketemuan dengan Yuina. Pada hari Sabtu, sekolah kami dan Yuina libur. Kata Keita, ia akan mengajak Yuina ke taman rekreasi. Bayangkan, pergi berdua dengan orang yang kau suka ke taman rekreasi, bukankah itu sangat menyenangkan ?!. Dari SMP Yuina selalu saja mendapatkan perhatian istimewa dari Keita dan itulah yang membuatku iri. Di depan Keita aku seolah-olah tak menyukainya secara khusus karena aku selalu menyembunyikan perasaan itu maka dari itu, ia tak menyadari bagaimana perasaanku terhadapnya.
Hari Sabtu pun tiba dengan pagi akan menjelang siang. Aku yakin pasti nanti mereka akan bersenang-senang. Sedangkan aku di rumah hanya sendirian menonton tv bersama kuingku Miu, kucing putih peliharaanku yang diberikan ayah dan ibuku sewaktu aku kecil, bukan hanya itu tapi boneka kelinci yang ada di kamarku pun juga. Dan ibuku sedang pergi bekerja. Semenjak papah meninggalkan kami berdua untuk selamanya karena suatu penyakit yang dideritanya, ibu jadi harus bekerja keras untuk mencukupi kehidupan kami berdua. Kadang ibu pulang dengan wajah lelah dan capai, Aku merasa kasihan pada ibu yang bekerja keras untuk menghidupiku dan dirinya.
Drrt Drrt Drrt… Hp ku bergetar. Aku segera mengambil hpku di meja belajar, mengecek dari siapa pesan itu. Dan ternyata itu pesan balasan dari Keita, Begini isi pesannya…
“aku dan yuina sdng mkn skrng.. sepulang dr tmn rekreasi sore ini, aku akan menyatakan prasaanku pada’a. doakan aku ya rin..” Dheg.. Aku memegang dadaku yang terasa sesak. Entah kenapa rasanya sesak sekali… kuatkan hatimu Rin. Lalu aku membalasnya dengan dukungan dan tanggapan positif.
Waktu berlalu dengan cepat, hari sudah malam sekitar pukul 22.00 malam. Pastinya Keita dan Yuina sekarang sudah ada di rumah. Mereka pulang pada sore hari sekitar jam 5 sore, begitu menurut pesan yang kuterima dari Keita. Dan sekarang aku belum juga tidur, walaupun mataku sudah 5 wat. Aku tiduran di ranjangku sambil mendengarkan musik yang pas dengan suasana hatiku saat ini dengan headset ditelingaku dan lampu dimatikan sambil menunggu ibu pulang. Di meja makan, aku sudah siapkan makan malam untuk ibu, kebiasaanku kalau ibu pulang larut.
Ibu belum juga pulang, waktu sudah menunjukkan pukul 22.25. ketika aku ingin memejamkan mata untuk tidur, tiba-tiba aku mendengar suara pintu dibuka lalu ditutup. ‘Cklek.. Blam’. Sepertinya ibu sudah pulang. Sambil mengintip dari balik pintu kamarku, aku memandangi wajah lelah ibu yang biasanya sehabis pulang kerja dan memerhatikannya yang sedang merapikan sepatu. Sepertinya ibu menyadari aku yang mengintip dari balik pintu kamar. Aku segera sadar dan menghampiri ibu dan menyalimnya.
“Ibu baru pulang ?? pasti capek… aku bantu bawakan tas ibu ke kamar ya..” tawarku pada ibu.
“mm.. iya. Kamu belum tidur nak ??” balas ibu. Aku segera membawakan tas ibu ke kamar dan menaruhnya, setelah itu aku keluar dari kamar ibu.
“belum bu..” jawabku. Lalu aku segera membuatkan ibu teh. “Bu, aku tinggal tidur ya..” kataku lagi pada ibu. Ibu membalasnya dengan ‘iya’ dan mengangguk. Akupun segera masuk kamar dan tidur.

Kamis, 20 September 2012 di 04.31 Diposting oleh Hanifah Aulia 0 Comments

Entah ini rasa rindu atau bukan
Entah aku masih ada rasa padanya atau tidak
Entah aku masih mengharapkannya kembali atau tidak

Aku tidak tau mana yang benar..
Tapi ingatanku kembali ke masa itu
Kenangan itu masih teringat jelas di ingatanku
Kenangan itu tak bisa ku lenyapkan
Meskipun kenangan manis tapi sakit rasanya bila di ingat

Ingin ku kembali untuk mengulangnya lagi
Tapi waktu tak bisa ku putar
Aku hanya bisa mengenangnya
Tapi bila ku ingat kembali kenangan itu,
membuatku ingin menangis

Alunan musik kenangan antara kau dan aku
Mengalun indah di telingan dan di dalam hatiku ini..
Ku ingin kau kembali padaku
Dan mengulang kembali kenangan itu...

Sabtu, 04 Agustus 2012 di 06.43 Diposting oleh Hanifah Aulia 0 Comments

     Tidak ada yang salah dengan mengidolakan seseorang. Terkadang kehadiran idola justru membuat hidup kita lebih bergairah karena adanya role-figur yang menjadi sumber inspirasi. Percaya atau tidak, tidak semua penggemar di dunia ini benar-benar layak disebut sebagai "fans sejati". Ada beberapa "penggemar" yang justru malah membawa bencana bagi idola mereka sendiri. Karena tidak bisa mengendalikan egonya dan bersikap kekanakan-kanakan. Para fans biasanya hanya mementingkan keinginan pribadi tanpa mau tahu perasaan sang idola. dan apakah yang seperti itu bisa disebut 'fans' ?!
Disini, aku akan menjelaskan beberapa kelompok Fans yang bisa dibilang Extreme.

ORIKI

Kata 'Oriki' berasal dari kalimat 'Okkake ni riki wo ireru hito', yang artinya 'Fans yang berusaha seekstrim mungkin untuk berjumpa dengan idolanya. Oriki disebut juga super groupies. Fans tipe ini biasanya tidak mengindahkan tatakrama saat konser, seperti mendorong penonton lain, berteriak-teriak saat pertunjukan berlangsung, mengangkat uchiwa tinggi-tinggi sehingga menghalangi pandangan penonton dibelakang, hingga menguntit idolanya saat offstage.
Ini adalah perbuatan dari Oriki tersebut..,

Stalker Ikuta Toma dan Yamada Ryosuke

Ikuta Toma
  Salah satu staf dorama yang tengah melakukan syuting dengan Ikuta Toma mengatakan, "Saat Ikuta datang ke studio Setagayaku untuk syuting film, seorang pria yang diduga Oriki sudah menunggu sejak pagi di depan strudio sambil cengar-cengir mengunyah permen karet". Di hari berikutnya, pria itu tidak muncul di depan studio dan malah menguntit Yamada Ryosuke.

Yamada Ryosuke
Kejadian ini terus berlangsung secara berkala dan kegiatannya berselang-seling antara menunggu Ikuta Toma di depan studio atau menguntit Yamada. Yang paling parah, Oriki tersebut juga menunggu di depan rumah mereka berjam-jam. Walau staf dan manajer mencoba untuk berbicara baik-baik dan membujuk untuk meninggalkan lokasi, pria itu tetap datang lagi. Konon Johnny Kitagawa selaku pemimpin Johnny's Jimusho menjalin relasi dengan beberapa Yakuza untuk menjadi bodyguard bagi talent-talent artisnya.

 YARAKASHI

  Fans tipe ini cederung memiliki perilaku yang tidak terkontrol dimanapun mereka berada, baik di Internet, konser, live show maupun offstage. Mereka bisa menyerang grup Johnny's lain karena menganggap idolanya lebih keren. Selain itu perbuatan seperti melempari rumah idolanya dengan batu atau menyakiti para idolanya juga kerap terjadi. Perbuatan mereka juga pernah mengakibatkan patahnya ibu jari Nino Arashi.

Insiden Kamenashi Kazuya

Kamenashi Kazuya

Sebelum insiden terjadi, Kame dan beberapa personil KAT-TUN lainnya memang sempat berkomentar yang kurang enak tentang personil NEWS. Dan peristiwa itu berbuntut panjang yang membuat Kame diincar Yarakashi. Saat KAT-TUN konser di Osaka, sejumlah Yarakashi datang membawa uchiwa bergambar Kame dan bertuliskan, "Go to Die, Kame!" , "Disgusting" atau "Dissapear forever". Kame yang biasanya menjadi MC ditengah pertunjukan, selalu disahuti dengan teriakan "Kamenashi SHUT UP!" sehingga dia shock dan ha,mpir menangis. Saat Kame tampil solo, sejumlah Yarakashi malah berseru memanggil"JIN JIN JIN". Jin sendiri tidak memedulikannya dan tetap mendukung Kame. Koki dan Maru juga bekerjasama memeriksa setiap uchiwa yang masuk ke concert hall untuk memastikan tidak ada lagi kata-kata menyakitkan. Esoknya Kame masih tampak terpukul dan sempat depresi yang mengakibatkan tidurnya tak tenang juga tak nafsu makan.
Dalam konser lain, sempat terjadi 30 orang penggemar yang tidak memiliki tiket menyeruak masuk kedalam concert hall. Saat konser di Osaka, seorang penonton mendorong penonton lainnya hingga terjatuh dan mengalami luka serius. Mereka juga melempar benda kepersonil KAT-TUN, menarik baju, hingga memakai bando Mickey Mouse yang menghalangi pandangan penonton di belakangnya.

Yamashita Tomohisa [YamaP] Disiram Air Keras

Yamashita Tomohisa
Kejadian ini justru diperbuat oleh salah satu penggemar Hello Project. Saat YamaP digosipkan tengah jalan bareng dengan salah satu artis Hello Project, Maki Goto. Salah seorang fans yang cemburu tiba-tiba menghampiri YamaP dan langsung menyiram YamaP dengan air keras. Air keras tersebut tidak mengenai muka namun mengenai beberapa bagian badan personil NEWS tersebut. YamaP langsung ditangani tim medis dan untungnya tidak sampai menjalani perawatan serius.

Akanishi Jin Dikuntit

Akanishi Jin
Kejadiannya bermula usai Jin menggelar acara persiapan untuk dirinya yang akan ke Amerika, bersama teman-teman dekat yang dijuluki sebagai Akanishi Gundan [brigade Akanishi]. Pesta tersebut berakhir sekitar jam 3 pagi dan Jin pergi ke rumah salah satu temannya di Setagaya. Disinilah insiden itu terjadi. Dua wanita melihat Akanishi secara kebetulan dan langsung mengejarnya dengan sepeda motor. Mengetahui wanita itu Yarakashi, ia berteriak "Sialan, cukup! Hentikan perbuatan konyol kalian!". Bukannya berhenti, Yarakashi itu malah semakin agresif dan menikmati pengejarannya. Hal ini membuat Jin dan anggota grupnya kewalahan. "Kami mencoba untuk menghindari kejaran mereka, bahkan sampai harus bersembunyi dibalik truk terdekat yang sedang parkir. Kadang kami merasa lelah dan ingin kabur saja dari situasi ini." tutur salah satu Akanishi Gundan.

4 Personil Hey!Say!JUMP Takut Pergi ke Sekolah



Hey!Say!JUMP
Yamada Ryosuke, Chiren Yuri, Nakajima Yuto, dan Daiki Arioka nyaris memutuskan berhenti sekolah setelah beberapa kali dikuntit oleh Yarakashi. Para Yarakashi ini nongkrong berhari-hari dan meninggalkan sampah berserakan. Kepala Sekolah hampir mengeluarkan mereka berempat karena membuat situasi sekolah menjadi tidak kondusif utnuk belajar. Pada akhirnya, para Yarakashi berhasil diamankan dan keempat personil ini tidak jadi dikeluarkan.

Semakin lama, perbuatan fans ekstrim ini semakin tidak terkendali dan berujung pada tindak kriminal. Dengan serentetan insiden yang terjadi, tak heran jika kemudian pihak manajemen Johnny's semakin memperketat penjagaan mereka. Jika sudah begini, tentu fans juga yang rugi bukan? Alangkah bijaksananya jika kita mau bersikap dewasa dan sopan kepada siapapun yang kamu idolakan, karena pada dasarnya idola juga manusia yang sama seperti kita.


sumber: Animonster

Selasa, 10 Juli 2012 di 15.00 Diposting oleh Hanifah Aulia 0 Comments

Hyaaa.. sebenernya sih udah dari kemaren kemaren pengen nulis artikel ini, tapi nggak sempet mulu... alasannya hanyalah satu, karena saya orangnya malesan... *plok* XD ahaha, langsung aja deh...
     Festival Tanabata atau juga dikenal sebagai festival bintang adalah festival yang merayakan penyatuan antara dua orang yang sedang jatuh cinta yang sudah lama tidak bertemu. Festival ini berasal dari negeri China dan dianggap hari Valentine-nya orang China dimana banyak pasangan kekasih merayakan dengan makan malam sederhana nan romantis. Perayaan besar-besaran dilakukan di kota-kota di Jepang, termasuk di antaranya kota Sendai dengan festival Sendai Tanabata. Di Tiongkok, perayaan ini disebut Qi Xi. Dalam tradisi Jepang, orang-orang menulis keinginan mereka pada kertas tanzaku (kertas berwarna-warni) dan menggantungnya pada pohon bambu. Orang juga menghiasi pohon bambu dengan berbagai macam ornamen dan dekorasi kertas serta menempatkannya diluar rumah mereka.
Keinginan yang ditulis pun bisa bermacam-macam. Tidak harus berhubungan dengan jalinan cinta mereka. Banyak yang menulis untuk kesehatan mereka, pekerjaan yang lebih baik, dan lain-lain. Tidak semua orang di Jepang merayakannya secara bersamaan. Ada yang tgl 7 juli, ada pula yang di bulan Agustus, tergantung tradisi daerahnya masing-masing. Legenda ceritanya begini..


Orihime, putri Kaisar Tentei, adalah seorang dewi penenun yang membuat pakaian-pakaian indah untuk ayahnya. Pada suatu hari ia duduk termenung di samping sungai Amanogawa. Rupanya Orihime sedang diliputi kesedihan karena ia saking sibuknya dengan tenunan sampai-sampai dia tidak bisa jatuh cinta.
Tentei, sang penguasa langit, pun ikut sedih. Lalu dia mengatur sebuah pernikahan untuknya dengan Hikoboshi, si penggembala sapi, yang tinggal di seberang sungai. Pasangan itu sangat bahagia dan sangat mencintai satu sama lain. Mereka bertemu setiap hari. Akibatnya, mereka mengabaikan pekerjaan mereka. Mereka lupa kalau mereka mempunyai kewajiban yang harus mereka lakukan.
Ini membuat marah Kaisar Tentei, sehingga dia memutuskan untuk memisahkan pasangan tersebut dan menempatkan mereka kembali di sisi sungai yang berlawanan. Tentei menetapkan bahwa pasangan itu hanya boleh bertemu dan melihat satu sama lain pada satu malam setiap tahunnya, yaitu pada hari ketujuh di bulan ketujuh.

 Hujan yang turun di malam Tanabata disebut Sairuiu (洒涙雨), dan konon berasal dari air mata Orihime dan Hikoboshi yang menangis karena tidak bisa bertemu.
 Nah, aku nemu salah satu tanzaku yang isinya menarik, aku dapet fotonya dari salah satu Fanpage di facebook. ada cewek yang nulis harapannya itu..

photo by: Teramoto , Japan.
 "マンガ家になれますように".
Aku mau bisa jadi Mangaka!


Waah, Ammiiin. semoga terkabul ya. :) 
Adakah kalian yang ingin menjadi mangaka juga ? (^_^)


sumber: 
legenda: http://jepang.net
photo tanzaku:  http://www.facebook.com/HarajukuPlayground

Visitor

free counters